Poundsterling Masih Tertekan Setelah Data Inflasi Inggris

Poundsterling masih berada di bawah tekanan versus Dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (20/3/2019),  meskipun data inflasi Inggris naik melebihi perkiraan. Ketidakpastian Brexit
tampaknya membatasi reli pekan lalu menyusul serangkaian voting di Parlemen Inggris yang
memutuskan agar Inggris menunda tenggat waktu 29 Maret yang semula ditetapkan untuk
keluar dari Uni Eropa.

GBP/USD sementara ini terpantau turun 0.40% di posisi 1.3215 pada pukul 19:15 WIB.

Office for National Statistics (ONS) melaporkan hari ini bahwa CPI Inggris (berbasis tahunan) mencatat kenaikan sebesar 1.9% di bulan Februari 2019, melebihi estimasi yang memperkirakan laju inflasi
konsumen hanya mencapai 1.8%, sama seperti pada periode bulan sebelumnya.

Dalam basis bulanan, CPI dan PPI Input juga berhasil mencatat laju sesuai ekspektasi. CPI
mengalami kenaikan 0.5% (Month-over-Month), sementara PPI Input meningkat 0.6 persen (Month-over- Month).

Sementara itu, dikabarkan bahwa PM Inggris Theresa May akan mengajukan surat permohonan untuk
menunda deadline brexit, agar dapat didiskusikan dalam pertemuan para pejabat tinggi Uni Eropa
yang akan digelar mulai hari Kamis besok.

Pernyataan terbaru dari Downing Street No 10 menyebutkan bahwa PM May tidak akan mengajukan
penundaan dalam waktu lama. Asisten editor politik BBC, Norman Smith, mengungkapkan kalau
penundaan yang diinginkan May kemungkinan hanya sampai akhir bulan Juni.

Namun, mantan pimpinan partai Konservatif, Iain Duncan Smith, mengatakan bahwa 90% anggota
partainya menginginkan penundaan brexit dalam kurun waktu lebih lama, sehingga bisa hal ini akan
menjadi masalah bagi PM May jika mengabaikan aspirasi mereka.